Hadirkan Pembicara Edwin Manansang, FEB Unsrat Gelar Kuliah Umum Bahas Peran KEK di Sulut

 

MANADO–Menjabarkan Tri Dharma perguruan tinggi maka Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menggelar seminar bertajuk “Peran Dampak KEK di Sulut bagi Masyarakat Kawasan Timur Indonesia” di gedung FEB Unsrat, Kamis (19/2/2026).

Kegiatan ini bertujuan  memberikan pemahaman komprehensif mengenai peran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sulawesi Utara (Sulut) serta membuka peluang kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah.

Ketua Panitia Dr. Agnes L.Ch. Lapian, SE., MSi., dalam laporannya menyampaikan seminar ini diharapkan mampu mengidentifikasi berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan dunia usaha.

“Kami  ingin mendorong terjalinnya kolaborasi yang erat dengan pemerintah agar pengembangan KEK dapat berjalan optimal,” ujarnya.

Dekan FEB Unsrat Dr. Victor P.K. Lengkong, SE., MSi., saat membuka acara memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya seminar tersebut.

 

Menurutnya, sebagai institusi pendidikan, FEB Unsrat memiliki peran strategis dalam mengarahkan pengembangan akademik, peningkatan kualitas SDM, serta penguatan riset dan inovasi.

“Dengan tata kelola yang profesional dan kolaboratif, kami berupaya menciptakan lingkungan akademik yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing,” tegasnya.

Seminar yang dimoderatori oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Willem J.F. Tumbuan, SE., MSc., PhD., ini menghadirkan narasumber utama Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Nasional (DN) KEK, Dr. Rizal Edwin Manansang Ak., MSc. Dalam pemaparannya, pria yang juga dikenal sebagai personel Trio Libels itu mengupas tuntas potensi sekaligus tantangan pengembangan KEK di Sulut.

Edwin Manansang yang ada putra kawanua asal Sangihe ini menyoroti lambatnya pertumbuhan investasi di KEK Likupang meskipun daerah tersebut memiliki daya tarik wisata yang besar.

“Koneksi penerbangan langsung ke Manado seharusnya menjadi momentum untuk mempromosikan pariwisata, khususnya di KEK Likupang.

Namun, investasi di sana baru mencapai 500 miliar rupiah, jauh tertinggal dibanding KEK Gresik yang sudah menembus 100 triliun rupiah. KEK Bitung pun baru 1,48 triliun,” paparnya.

Ia menekankan perlunya sinergi semua pihak, termasuk akademisi dan mahasiswa, untuk mengkaji solusi terbaik bagi percepatan pengembangan KEK.

“Anak muda penuh inisiatif. Saya biasa berdiskusi dengan mahasiswa untuk mendapatkan inspirasi.

 

Unsrat sebagai lembaga akademik dapat berperan aktif dalam riset dan kajian guna mendorong kemajuan KEK di Sulut,” ajaknya.

Mantab pejabat eselon 2 di kementerian koordinator ekonomi ini berharap KEK Bitung dan Likupang ke depan mampu menjadi penyangga ekonomi kawasan, tidak hanya berjalan di tempat seperti saat ini.

“Mari kita satukan langkah. Ora et Labora, bekerja dan berdoa, agar KEK di Sulut dapat berkembang pesat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.(*)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *