MANADO–PT PLN (Persero) terus mempercepat pemerataan akses listrik di Sulawesi Utara. Dari 1.839 desa/kelurahan di Sulut, masih ada delapan desa yang belum berlistrik. Semua desa itu berada di wilayah kepulauan.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Suluttenggo Usman Bangun menjelaskan meski rasio elektrifikasi Sulut telah mencapai 99,41 persen dan rasio desa berlistrik sudah 99,56 persen.
Namun ada desa yang belum menikmati layanan listrik PLN.
“Totalnya masih ada delapan desa di Sangihe dan Sitaro.
Sebagian masyarakatnya sudah menikmati listrik tapi swadaya. Listrik PLN belum masuk,” kata Usman dalam pertemuan dengan media di Kantor PLN, Selasa (30/06/2026) pagi tadi.
“Seluruh desa tersebut berada di wilayah kepulauan terluar yang memiliki tantangan geografis cukup tinggi,” tambah Usman.
Manajer Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) Sulawesi Utara PLN UID Suluttenggo Heru memaparkan Executive Summary Program Lisdes Sulawesi Utara bahwa rasio elektrifikasi total di Sulawesi Utara telah mencapai 99,99 persen.
Sementara rasio desa berlistrik secara keseluruhan telah menyentuh 100 persen.
“Namun, dari 1.839 desa di provinsi itu, masih terdapat delapan desa yang menjadi pekerjaan rumah PLN dan pemerintah untuk dilistriki,” katanya.
Delapan desa tersebut tersebar di dua kabupaten kepulauan, yakni Kabupaten Kepulauan Sitaro yang meliputi Desa Laingpatehi dan Desa Pumpente.
Selain itu di Kabupaten Kepulauan Sangihe yang mencakup Desa Kahakitang, Dalako Bembanehe, Taleko Batusaiki, Beeng, Para, dan Para I.
“Keberadaan desa-desa yang belum berlistrik tersebut menunjukkan bahwa tantangan elektrifikasi di Sulawesi Utara kini bukan lagi soal cakupan wilayah secara umum.
Tapi menjangkau daerah-daerah terpencil dan kepulauan terluar yang membutuhkan investasi infrastruktur lebih besar.
Serta metode pembangunan yang lebih kompleks,” kata Heru menambahkan.
Heru juga memaparkan bahwa sepanjang 2025 hingga April 2026 UP2K Sulawesi Utara telah berhasil melistriki 28 lokasi.
Program tersebut merupakan penugasan yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan skema Anggaran Belanja Tambahan (ABT) Tahun 2025.
Dalam periode tersebut, PLN membangun jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 10,27 kilometer sirkuit (Kms), jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 23,85 kilometer sirkuit, serta menambah kapasitas gardu distribusi sebesar 800 kVA.
Kabar gembira bagi Sulut juga bahwa di 2026 ini skala pembangunan akan diperbesar.
Melalui program penugasan APBN Lisdes 2026, PLN menargetkan pembangunan jaringan kelistrikan di 96 lokasi yang diproyeksikan mampu melayani 3.143 calon pelanggan baru.
Secara keseluruhan, usulan pembangunan infrastruktur kelistrikan tahun 2026 meliputi pembangunan jaringan tegangan menengah sepanjang 37,52 Kms dan jaringan tegangan rendah sepanjang 121,72 Kms.
Selain itu, PLN juga merencanakan penambahan kapasitas gardu distribusi sebesar 2.450 kVA.
“Tidak hanya mengandalkan jaringan eksisting untuk perluasan jaringan, namun program tersebut juga memasukkan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas total 1.671 kilowatt peak (kWp).
Langkah ini dinilai menjadi solusi untuk melistriki wilayah kepulauan dan daerah terpencil yang sulit dijangkau jaringan utama PLN,” tambah Heru.(*)


Tinggalkan Balasan