TOMOHON — Inovasi pertanian berbasis teknologi kembali datang dari mahasiswa Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT).

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI) Tahun 2026, Tim AGRINEXUS UNSRAT yang di ketuai oleh Widy Oktavia Amba Sari, bersama anggota Cenesa Bong, Dewa Saputra Mandak, Yeremia Imanuel Lahema, Mohammad Vitorio Fitrah Tagupia dan dosen pendamping  Barce A. F. Wariki M.Si berhasil lolos pendanaan  Bulan Mei lalu .

Dengan menghadirkan solusi Smart Farming berbasis Internet of Things (IoT) bagi Kelompok Tani Filadelfia di Kelurahan Tinoor Satu, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon.

Mengusung program AGRINEXUS: Implementasi Smart Farming Berbasis Internet of Things (IoT) untuk Monitoring dan Optimalisasi Produksi Pisang Mas di Tinoor Satu, tim ini membawa pendekatan baru dalam pengelolaan pertanian dengan memanfaatkan teknologi untuk membantu petani memperoleh informasi kondisi pertanaman secara lebih cepat, terukur, dan berbasis data.

Bukan sekadar memasang perangkat elektronik di lahan, AGRINEXUS dirancang sebagai sebuah ekosistem teknologi yang menghubungkan sensor, sistem pemrosesan data, dan dashboard monitoring untuk membantu petani memahami kondisi lingkungan pertanaman.

Dari Permasalahan di Kebun, Lahir Sebuah Inovasi

Program AGRINEXUS berangkat dari kondisi nyata yang ditemukan tim saat melakukan observasi bersama Kelompok Tani Filadelfia. Dalam kegiatan budidaya, pemantauan kondisi lingkungan pertanaman masih banyak mengandalkan pengamatan secara langsung dan pengalaman petani.

Padahal, kondisi seperti suhu udara, kelembapan udara, kelembapan tanah, intensitas cahaya, dan hujan dapat berubah dari waktu ke waktu dan menjadi informasi penting dalam pengelolaan pertanaman.

Dari kondisi tersebut, Tim AGRINEXUS melihat adanya peluang untuk menghadirkan teknologi yang mampu membantu petani memperoleh informasi secara lebih sistematis.

“Teknologi yang kami bawa bukan untuk menggantikan pengalaman petani, tetapi untuk memperkuat pengalaman tersebut dengan data. Harapannya, petani dapat memiliki informasi tambahan sebelum mengambil keputusan dalam pengelolaan pertanaman,” ujar Tim AGRINEXUS.

Mengubah Kebun Menjadi Ruang Monitoring Berbasis Data

AGRINEXUS dikembangkan dengan mengintegrasikan beberapa komponen sensor dengan mikrokontroler ESP32 sebagai bagian dari sistem pengumpulan data.

Sejumlah parameter lingkungan pertanian dipantau melalui perangkat yang terdiri atas AHT10 untuk suhu dan kelembapan udara, sensor kelembapan tanah, GY-302 untuk intensitas cahaya, serta sensor pendeteksi hujan.

Data yang diperoleh kemudian dikirimkan ke sistem monitoring dan ditampilkan melalui dashboard AGRINEXUS. Melalui dashboard tersebut, informasi kondisi pertanaman dapat divisualisasikan sehingga lebih mudah dipahami dan dipantau.

Konsep tersebut menjadi salah satu kekuatan utama AGRINEXUS: mengubah kondisi yang sebelumnya hanya “dilihat” menjadi data yang dapat dipantau dan dianalisis.

Tidak Berhenti pada Perakitan Alat

Setelah dinyatakan lolos pendanaan PKM-PI 2026, Tim AGRINEXUS tidak langsung membawa perangkat ke lahan. Program terlebih dahulu melalui serangkaian tahapan, mulai dari koordinasi, observasi, identifikasi kebutuhan mitra, perancangan sistem, pengadaan komponen, perakitan, pemrograman, hingga pengembangan dashboard.

Pendekatan tersebut dilakukan agar teknologi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan dan kemampuan pengguna.

Tim juga melaksanakan sosialisasi kepada Kelompok Tani Filadelfia sebagai bagian dari proses transfer teknologi. Dalam kegiatan tersebut, anggota kelompok tani diperkenalkan dengan konsep smart farming, fungsi perangkat, cara membaca data, serta penggunaan sistem monitoring.

Bagi tim, transfer pengetahuan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari teknologi itu sendiri.

Sebab, sebuah inovasi tidak akan memberikan dampak maksimal apabila hanya dapat digunakan oleh pembuatnya.

Dari Kampus Menuju Lahan Pertanian

Tahap implementasi kemudian dilakukan dengan pemasangan perangkat AGRINEXUS pada lahan mitra di Tinoor Satu.

Pemasangan tersebut menjadi titik penting perjalanan program karena untuk pertama kalinya sistem yang dirancang dan dirakit oleh tim mulai berhadapan langsung dengan kondisi lingkungan pertanian sebenarnya.

Sensor mulai mengumpulkan data dari lapangan, sementara sistem monitoring digunakan untuk melihat kondisi pertanaman melalui dashboard.

Pada tahap ini, tim juga melakukan pengujian dan pengecekan untuk memastikan perangkat dapat bekerja dengan baik, data dapat terbaca, dan sistem monitoring dapat digunakan sesuai rancangan.

Teknologi untuk Petani, Bukan Sekadar Teknologi

Salah satu prinsip yang dibawa Tim AGRINEXUS adalah bahwa teknologi pertanian harus mudah dipahami, relevan, dan dapat digunakan oleh petani.

Karena itu, selain membangun perangkat, tim menyiapkan Buku Panduan Mitra dan SOP penggunaan sebagai pedoman bagi kelompok tani dalam mengoperasikan dan merawat sistem.

Dengan pendekatan tersebut, AGRINEXUS tidak hanya meninggalkan perangkat di lahan, tetapi juga meninggalkan pengetahuan dan sistem kerja yang dapat digunakan oleh mitra.

Data sebagai Langkah Awal Menuju Pertanian Cerdas

Kehadiran AGRINEXUS diharapkan dapat membantu kelompok tani memperoleh informasi kondisi pertanaman secara lebih terstruktur.

Data yang dikumpulkan juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat perubahan kondisi lingkungan pertanaman dari waktu ke waktu.

Bagi tim, inilah esensi dari smart farming: bukan sekadar menggunakan teknologi canggih, melainkan menggunakan data untuk membantu manusia mengambil keputusan yang lebih baik.

“Kalau sebelumnya petani mengandalkan apa yang dilihat dan dirasakan di lapangan, AGRINEXUS mencoba menambahkan satu hal lagi: data,” menjadi semangat yang dibawa tim dalam penerapan program ini.

Membangun Teknologi yang Tidak Berakhir Bersama PKM

Tim AGRINEXUS juga menempatkan aspek keberlanjutan sebagai bagian penting dari program.

Setelah implementasi, mitra diarahkan untuk mampu mengoperasikan dan melakukan pemeliharaan dasar sistem secara mandiri. Tim juga menyiapkan dokumentasi, panduan penggunaan, serta mekanisme pendampingan agar pemanfaatan teknologi tidak berhenti ketika masa pelaksanaan PKM berakhir.

Ke depan, hasil implementasi akan dievaluasi berdasarkan data monitoring, kondisi perangkat, pengalaman pengguna, serta respons kelompok tani.

Hasil evaluasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk menyempurnakan sistem dan membuka peluang pengembangan AGRINEXUS pada kelompok tani atau komoditas pertanian lainnya.


Dari Tinoor Satu untuk Pertanian yang Lebih Cerdas

Bagi Tim AGRINEXUS UNSRAT, program ini bukan hanya tentang memenangkan pendanaan PKM.

Lebih jauh, AGRINEXUS menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membawa ilmu dari kampus ke tengah masyarakat dan menguji bagaimana teknologi dapat menjawab persoalan nyata di lapangan.

Dari Tinoor Satu, sebuah sistem kecil berbasis sensor dan IoT mulai membangun gagasan yang lebih besar: bahwa pertanian masa depan tidak harus meninggalkan pengalaman petani, tetapi dapat memperkuatnya dengan teknologi dan data.

Dengan semangat tersebut, Tim AGRINEXUS UNSRAT menargetkan agar program yang dimulai melalui PKM-PI 2026 ini tidak berhenti sebagai proyek mahasiswa, melainkan berkembang menjadi model penerapan smart farming yang dapat terus dimanfaatkan, dikembangkan, dan direplikasi.

AGRINEXUS — bersama petani membangun pertanian yang lebih cerdas.(*)