Terik matahari terasa menyengat di ruas Jalan Trans Sulawesi, tepatnya di Kilometer (KM) 272 dari arah Manado. Hembusan angin pantai yang kering sesekali menerpa, tetapi seorang pria paruh baya tetap tekun bekerja di tengah lalu lintas kendaraan yang terus bergerak.

Tanpa mengenakan alat pelindung diri (APD), pria berjanggut itu terlihat serius memadatkan campuran cor semen pada sebuah ceruk di badan jalan. Lokasinya berada tepat di garis putih, pada pertemuan lantai konstruksi jembatan besi permanen dengan jalan beraspal hot mix.

Ceruk tersebut cukup lebar dan selama ini menjadi salah satu titik yang dikeluhkan pengguna jalan.

“Ini pekerjaan proyek, Pak?” tanyaku.

“Bukan,” jawabnya singkat tanpa menghentikan pekerjaannya.

Pria itu kemudian memperkenalkan diri sebagai Husain Yusuf. Di lingkungan sekitar, ia lebih dikenal dengan julukan Ka Danggu Bunor. Sebagian orang juga memanggilnya Papa Rusli.

Husain Yusuf atau Ka Danggu Bunor, bisa juga dipanggil Papa Rusli. [Foto: Om Theo]
Siang itu, Sabtu (5/9/2026) saya bersama rekan sesama wartawan, Ferdianto Pontoh, kebetulan berhenti untuk menyapa Husain. Tanpa diminta, ia menghentikan sejenak pekerjaannya dan mulai menceritakan alasan dirinya berada di tengah jalan.

Berawal dari Keprihatinan

Menurut Husain, ceruk di jalan tersebut bukan sekadar lubang biasa. Ia mengaku sudah berkali-kali melihat kecelakaan terjadi di lokasi itu.

Mulai dari kecelakaan ringan hingga kecelakaan yang menurutnya cukup serius.

Yang paling membuatnya prihatin terjadi pada malam sebelumnya. Seorang ibu hamil yang mengendarai sepeda motor bersama suaminya terjatuh setelah kendaraan mereka masuk ke ceruk tersebut.

“Tadi malam ada ibu hamil jatuh dari motor. Umur kandungannya enam bulan. Ibu jatuh akibat motor yang dikendarai suaminya masuk lubang. Dia pendarahan, saya antar pakai bentor ini ke rumah sakit. Ibu itu langsung dirujuk,” tutur Husain.

Pengalaman tersebut membuatnya kembali turun tangan.

Bagi Husain, menutup ceruk itu bukan pekerjaan proyek. Tidak ada perintah, tidak ada upah yang dijanjikan. Ia melakukannya karena merasa tidak tega melihat pengguna jalan terus menghadapi risiko kecelakaan.

Enam Kali Ditimbun

Bukan kali pertama Husain berusaha memperbaiki bagian jalan tersebut.

Ia mengaku sudah lima kali menimbun ceruk menggunakan tanah urug jenis domato. Namun, setiap kali ditimbun, ceruk kembali terbuka.

Kali ini ia mencoba cara berbeda.

Husain membeli semen dan memilih melakukan pengecoran agar bagian jalan tersebut lebih kuat dan diharapkan mampu bertahan lebih lama.

“Ini sudah keenam kalinya. Lima kali sebelumnya saya hanya timbun pakai domato. Kali ini saya beli semen,” katanya.

Dua sak semen dibelinya sendiri. Satu sak lainnya merupakan pemberian warga yang mengetahui upayanya memperbaiki jalan tersebut.

Material berupa pasir dan kerikil diangkut menggunakan bentor miliknya. Setelah itu, semuanya dicampur dengan semen dan air. Pekerjaan tersebut dilakukannya seorang diri.

Ember cor berukuran kecil menjadi salah satu perlengkapan sederhana yang digunakan Husain untuk mengangkut adonan semen ke bagian jalan yang berlubang.

Husain Yusuf, sedang mengarahkan kenderaan pengguna jalan yang harus bergantian melintas akibat setengah jalan masih belum bisa dilalui karena adonan semen cor pada ceruk di ujung jembatan masih lembek. [Foto: Om Theo]
Menjelang Usia 60 Tahun

Di balik sosok pria berjanggut yang berdiri di tengah jalan itu, tersimpan kisah kehidupan yang sederhana.

Husain berasal dari Kecamatan Tapa, yang kini masuk wilayah Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Ia kemudian menetap di Desa Bolangitang 1, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara.

Ia mengatakan, dirinya sudah puluhan tahun tinggal di daerah tersebut.

“Saya dari Gorontalo, di Tapa. Belum lama juga saya tinggal di sini, baru mau 39 tahun,” ujarnya sambil berkelakar.

Pada Oktober mendatang, Husain akan genap berusia 60 tahun. Ia memiliki empat orang anak dan empat cucu. Anak bungsunya masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.

Namun, usia tidak membuatnya memilih untuk berdiam diri ketika melihat persoalan di lingkungan sekitar.

Di bawah terik matahari, ia memilih menghabiskan waktunya mengangkut material, mengaduk semen, kemudian menutup ceruk yang dianggapnya membahayakan pengguna jalan.

Ember Kecil di Tengah Lalu Lintas

Pemandangan lain muncul ketika kendaraan terus melintas di lokasi.

Sebagian pengguna jalan yang mengetahui apa yang dilakukan Husain tampak memberikan dukungan. Mereka mengulurkan sejumlah uang kepadanya.

Ember cor kecil yang sebelumnya digunakan untuk membawa adonan semen kini berubah fungsi menjadi wadah pemberian dari para pengguna jalan.

Isinya beragam. Sebagian besar berupa pecahan Rp2.000. Terlihat pula uang pecahan Rp5.000 hingga Rp20.000.

Tidak semua pengguna jalan berhenti. Sebagian lainnya melintas begitu saja. Ada yang sempat melirik, tetapi tidak sedikit pula yang bahkan tidak menoleh.

Husain tidak mempermasalahkannya.

Ia tetap kembali pada pekerjaannya—mengangkut cor, menuangkannya ke ceruk, lalu memadatkannya perlahan.

Di tengah deru kendaraan dan panasnya Jalan Trans Sulawesi, pria yang dikenal dengan nama Ka Danggu Bunor itu memilih melakukan sesuatu yang sederhana: menutup sebuah lubang agar orang lain tidak kembali menjadi korban.

Bagi sebagian orang, mungkin hanya sebuah ceruk kecil di jalan.

Namun bagi Husain, ceruk itu telah menjadi saksi jatuhnya sejumlah pengguna jalan. Dan karena itulah, ia memilih turun tangan.

Penulis Romi Lantapa