Rawat Tradisi Daerah, Bupati Boltara Terima Prosesi Adat Mopohabaru Jelang Idul Fitri

Bupati Boltara Sirajudin Lasena, didampingi Wakil Bupati Mohammad Aditya Pontoh, menerima prosesi adat Mopohabaru penetapan pelaksanaan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriyah bertempat di kediaman Bupati, Jum'at (13/03/2026). Foto: Om Theo

Boltara – Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan merawat nilai-nilai adat serta budaya daerah.

Salah satu wujud pelestarian tradisi tersebut terlihat dalam prosesi adat Mopohabaru yang digelar menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah di kediaman Bupati Boltara, Jumat (13/03/2026).

Adat dan kebudayaan merupakan identitas penting yang mencerminkan perjalanan panjang suatu daerah. Keberadaan tradisi yang masih terjaga hingga saat ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai leluhur tetap dihormati dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bolaang Mongondow Utara.

Penyampaian kata-kata adat yang menjelaskan runutan penetapan pelaksanaan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriyah yang dipaparkan oleh pelaksana adat Kaidipang besar di hadapan Bupati dan Wakil Bupati. (Foto: Istimewah)

Prosesi Mopohabaru dilaksanakan untuk kedua kalinya sepanjang masa pemerintahan Bupati Sirajudin Lasena, bersama Wakil Bupati Mohammad Aditya Pontoh.

Tradisi ini merupakan bagian dari adat masyarakat Boltara yang dilakukan setiap menjelang hari raya sebagai bentuk penghormatan kepada pemimpin daerah sekaligus penyampaian informasi resmi terkait waktu pelaksanaan Idul Fitri.

Dalam prosesi tersebut, para camat, kepala desa, pejabat di lingkungan Pemkab Boltara, pelaksana adat desa, serta tokoh masyarakat mendatangi kediaman bupati untuk mengikuti rangkaian adat.

Jajaran pejabat teras Pemkab Boltara mendamping Bupati dan Wakil Bupati dalam rangkaian gelar prosesi adat jelang hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriyah. (Foto: Om Theo)

Di hadapan Bupati dan Wakil Bupati, perwakilan pelaksana adat menyampaikan secara resmi waktu pelaksanaan hari raya sebagaimana tradisi leluhur.

Bupati Sirajudin Lasena dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi atas dilaksanakannya tradisi Mopohabaru sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.

Di samping informasi resmi dari tetua adat, Sirajudin menegaskan pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri tetap mengacu pada keputusan pemerintah pusat melalui Kementerian Agama Republik Indonesia, namun tradisi adat tetap dijaga sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur.

“Kegiatan ini adalah bagian dari tradisi adat kita yang wajib kita jaga kelangsungannya, meskipun demikian Kita juga harus mematuhi aturan yang berlaku dengan menunggu pengumuman resmi dari pemerintah Republik Indonesia,” ujar Bupati.

Ceramah agama yang dikemas dalam Kuliah Tujuh Menit (Kultum) jelang berbuka puasa disampaikan oleh ustadz Sya’ban, serangkaian prosesi adat Mopohabaru di kediaman Bupati Boltara. (Foto: Om Theo)

Kegiatan sarat dengan nuansa adat dan religius berupa khataman Al-qur’an berjamaah dan kuliah tujuh menit (kultum) yang disampaikan oleh Ustadz Sya’ban.

Dalam ceramahnya, ia mengangkat tema tentang keistimewaan malam Lailatul Qadar serta pentingnya meningkatkan keimanan di bulan suci Ramadan.

Rangkaian prosesi adat Mopohabaru kemudian ditutup dengan buka puasa bersama yang berlangsung penuh keakraban, sebagai simbol kebersamaan antara pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat di penghujung bulan suci Ramadhan tahun 1447 Hijriyah.

(Advetorial)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *