MANADO – Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara, Tahlis Gallang, secara resmi membuka kegiatan Koordinasi Penerapan Transformasi Digital Pemerintah yang digelar di Manado, Rabu (25/6/2026).

Dalam kesempatan itu, Tahlis menegaskan bahwa transformasi digital harus menjadi instrumen guna meningkatkan efektivitas birokrasi sekaligus mempercepat pelayanan kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik Sulawesi Utara, Jaynudin Hilimi, serta Asisten Deputi Koordinasi Penerapan Transformasi Digital Pemerintah Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Muhammad Averus.

Mengawali sambutannya, Tahlis menyapa Muhammad Averus dengan nada jenaka. Menurutnya, nama “Averus” terdengar unik dan mengingatkannya pada seorang filsuf.

“Saya pikir cuma Caesar yang unik, ternyata Pak Averus juga. Artinya diharapkan jadi filsuf, dan dari pernyataan beliau memang cocok sebagai filsuf,” ujarnya yang langsung disambut tawa peserta.

Tahlis juga menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Sulawesi Utara sebagai tuan rumah kegiatan nasional tersebut.

“Selama ini kegiatan seperti ini selalu dilaksanakan di Makassar.

Tahun ini digelar di Sulawesi Utara, ujung utara Indonesia.

Kami bersyukur mendapat kesempatan menjadi tuan rumah,” katanya.

Ia menilai penyelenggaraan kegiatan di daerah juga mendukung kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.

Menurutnya, anggaran perjalanan dinas yang dapat dihemat bisa dialihkan.

Untuk sektor-sektor yang lebih menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti pendidikan dan kesehatan.

Dalam suasana santai, Tahlis turut memperkenalkan konsep “3B Sulut” kepada para peserta dari luar daerah sebagai daya tarik daerah.

B pertama adalah Taman Nasional Bunaken yang disebutnya sebagai destinasi wisata bawah laut kelas dunia.

B kedua adalah Tinutuan atau Bubur Manado yang menurutnya memiliki cita rasa khas karena menggunakan hasil bumi Sulawesi Utara.

Sementara B ketiga yang paling menarik perhatian peserta adalah “Bibir Manado”.

“Bukan negatif. Bibir Manado itu lembut, sopan, ramah, enak didengar.

Kalau sudah kenal orang Manado, biasanya tidak mau pulang,” katanya yang kembali mengundang gelak tawa.

Memasuki materi utama, Tahlis mengajak peserta, khususnya generasi yang mengalami masa sebelum komputer dan internet.

“Untuk mengingat bagaimana teknologi telah mengubah pola kerja pemerintahan,”jelasnya.

Menurutnya, esensi transformasi digital bukan sekadar penggunaan aplikasi, melainkan memangkas proses yang tidak efektif sehingga aparatur dapat lebih fokus melayani masyarakat.

“Roh teknologi adalah memangkas waktu yang tidak efektif agar dapat digunakan untuk pelayanan publik.

Esensi transformasi digital adalah efisiensi dan efektivitas,” tegasnya.

Ia menambahkan, pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi bukti  banyak pekerjaan pemerintahan dapat dilakukan secara digital.

Tanpa harus bergantung pada pertemuan tatap muka maupun pembangunan infrastruktur perkantoran yang berlebihan.

“Kalau pekerjaan bisa dilakukan secara digital, anggaran pembangunan gedung dapat dialihkan untuk kepentingan masyarakat.

Koordinasi juga tidak selalu harus dilakukan secara langsung jika teknologi mampu menjembataninya,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Tahlis mengajak seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk memperkuat komitmen dalam mempercepat transformasi digital pemerintahan.

“Kita digaji negara untuk melayani masyarakat, bukan menghabiskan waktu pada urusan administrasi.

Dengan digitalisasi, waktu kita akan lebih banyak digunakan untuk pelayanan publik. Sulawesi Utara siap menjadi bagian dari Indonesia digital,” pungkasnya.(tha)