MANADO, RadarSulut.com – Ketua DPC PKB Kota Manado, Budi Wahono, menyampaikan optimismenya terhadap kepemimpinan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil Muktamar NU ke-35.
Menurut Budi, terpilihnya Gus Kikin membawa semangat “kembali ke Tebuireng”, yang secara filosofis memiliki makna mendalam bagi perjalanan Nahdlatul Ulama.
“Secara filosofis tebu ireng adalah tanaman yang mempunyai banyak manfaat dan mampu membawa keberuntungan serta mampu menangkal energi-energi negatif,” ujar Budi Wahono, Senin (31/8).
Budi menilai Gus Kikin memiliki pengalaman dan latar belakang yang kuat untuk memimpin NU menghadapi berbagai tantangan ke depan. Pengalaman tersebut, kata dia, tidak hanya diperoleh dari lingkungan pesantren dan organisasi NU, tetapi juga dari dunia usaha.
Apalagi, Gus Kikin merupakan cicit dari salah satu pendiri NU dan tumbuh dalam kultur pesantren yang kuat. Hal tersebut dinilai menjadi modal penting dalam membangun karakter kepemimpinan.
“Sebagai nahkoda yang baru dengan pengalaman yang seluas samudra, cicit pendiri NU dengan kultur pesantren yang kental, pengalaman sebagai pengusaha di bidang maritim dan sumber daya alam serta sebagai pimpinan di PWNU Jatim, saya optimis beliau mampu menjadi nahkoda yang mampu menghadapi badai dengan kesabaran dan perhitungan,” ungkapnya.
Menurut Budi, pengalaman Gus Kikin di pesantren dapat membentuk karakter kepemimpinan yang mengedepankan kesabaran dan sikap tawadhu. Nilai-nilai tersebut dinilai penting bagi seorang pemimpin organisasi sebesar NU.
Di sisi lain, pengalaman Gus Kikin sebagai pengusaha dinilai memberikan perspektif yang berbeda dalam menghadapi berbagai tantangan organisasi, terutama dalam menyusun strategi dan mengambil keputusan.
“Dari pondok beliau belajar kesabaran dan tawadhu, dari pengusaha beliau paham strategi dan perhitungan,” katanya.
Budi berharap kepemimpinan baru PBNU dapat membawa organisasi kembali memperkuat kesadaran dan jati dirinya. Ia juga berharap NU mampu mengambil peran lebih besar dalam membangkitkan perekonomian masyarakat dan warga Nahdliyin.
“Saya berharap ke depan NU menjadi organisasi yang mampu membangkitkan kesadaran dan jati dirinya, sekaligus membangkitkan ekonomi keumatan yang berbasis komunitas,” ungkapnya.
(Rama)



Tinggalkan Balasan