Canda tawa pekerja kasar terlihat dari kejauhan saat kami memasuki salah satu titik tempat beroperasinya penambangan batu di Desa Sangkub 1 Kecamatan Sangkub Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
Di bawah terik matahari menjelang siang, sejumlah pekerja bernaung pada tenda beratapkan terpal, orang lokal menyebutnya Sabuah.
Sepertinya mereka hendak beristirahat untuk makan siang setelah melakukan aktivitas di tambang batu tersebut.
Saya beserta Tiga kawan yang sama-sama berprofesi sebagai jurnalis disambut hangat oleh para pekerja itu.
Tentunya kami menyapa dengan salam sebagaimana kebiasaan warga Bolaang Mongondow Utara.
Siang itu, Selasa 25 Agustus, kami berempat berdiskusi ringan dengan para pekerja, di sabuah tersebut.
Ada Enam atau Tujuh pekerja bernaung di sabuah itu.
“Mari makan”, tiba-tiba salah satu di antara mereka menawarkan makan sambil membuka wadah bekal yang disiapkan dari rumah. Kami tidak ikut makan.
Dari bincang-bincang itu, mereka mengaku untuk memenuhi kebutuhan. Bahkan diantaranya untuk biaya pendidikan anak.
Sebagaimana lazimnya pertambangan batu, praktik itu didukung oleh alat berat berupa excavator dan dum truck.
Terlihat Dua unit excavator yang digunakan untuk menggali.
Sejumlah dum truck pula terlihat di tempat itu.
Selain itu, terdapat cctv. Sepertinya sengaja dipasang untuk memantau aktivitas di tempat itu
Menurut pekerja, areal itu dikuasai oleh pengusaha lokal di wilayah tersebut.
Tidak jauh dari tempat itu, ada tambang galian yang sama, menurut pekerja galian tersebut dikuasai oleh orang yang berbeda, juga pengusaha lokal di situ.
Kami pun mendatangi tempat tersebut.
Benar, setelah sekira Satu sampai Dua menit, kami menemukan lokasi dimaksud
Pemandangan yang sama juga kami temukan di situ.
Dari kejauhan terlihat sejumlah pekerja sedang mengelilingi alat penggali excavator.
Sepertinya excavator tersebut mengalami kerusakan dan sedang diperbaiki.
Terdengar ketukan-ketukan keras yang dilakukan oleh pekerja di sekitar excavator itu.
Kepala Desa setempat, Munawir Gonibala, mengaku jika tempat itu masih wilayah hukum desa yang dipimpinya.
Ia membenarkan aktivitas penambangan batu di wilayahnya.
Terkait itu menurut Munawir, pihaknya sudah berupaya agar praktik pertambangan itu berjalan sesuai aturan
Ia menyentil kerusakan jalan yang menurutnya akibat kenderaan lalu lalang tidak lagi sesuai kapasitas.
“Lihat saja, jalan rusak terus, beberapa kali diperbaiki sukarela oleh masyarakat, tapi begitulah kondisinya,” tutup Munawir.
(Om Theo)



Tinggalkan Balasan