Engku Yulius Sampaikan Cerita Firman Tuhan Kepada Puluan Anak Sekolah Minggu

 

MANADO–Suasana di Gereja GMIM Eben Heazer Bumi Beringin pagi itu terasa berbeda.

Di antara riuh rendah suara nyanyian khas anak-anak dan tepuk tangan yang ritmis, terselip sebuah pemandangan yang menyejukkan hati.

Tidak ada protokoler ketat, tidak ada setelan jas formal, apalagi sekat jabatan yang kaku.

​Di sana, berdiri Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling (YSK).

Namun, bagi puluhan anak yang duduk bersila di hadapannya, ia bukanlah orang nomor satu di Bumi Nyiur Melambai.

Ia adalah “Engku Yulius”—seorang guru sekolah minggu yang datang dengan satu misi sederhana: melayani.

​Tanpa jarak, Yulius berdiri sebagai khadim.

Ia menyampaikan Firman Tuhan dengan gaya bercerita yang ringan dan jenaka, khas bahasa yang dimengerti dunia anak-anak.

Sesekali, tawa pecah saat sang Gubernur melontarkan candaan atau bertanya tentang cita-cita mereka.

​Tatapan matanya hangat, mencerminkan kasih seorang ayah sekaligus guru.

Bagi jemaat yang menyaksikan, momen ini seolah menjadi pengingat bahwa di balik pundak yang memikul urusan pemerintahan dan dinamika politik, terdapat hati yang rindu pada kesederhanaan.

​“Pelayanan kepada anak-anak itu panggilan hati. Di sinilah iman ditanam sejak kecil,” ujar Yulius dengan nada lugas namun penuh haru.

​Bagi warga GMIM Eben Heazer, kehadiran Yulius sebagai “Engku Sekolah Minggu” adalah simbol dedikasi.

Di tengah padatnya jadwal pembangunan dan urusan strategis daerah, ia memilih untuk kembali ke dasar: buku cerita Alkitab, nyanyian pujian, dan tawa tulus anak-anak.

​Beberapa orang tua murid tampak terharu, diam-diam mengabadikan momen langka tersebut melalui ponsel mereka.

Mereka melihat sosok pemimpin yang tidak hanya pandai membuat kebijakan di balik meja, tetapi juga bersedia turun ke lantai untuk mendengar cerita anak-anak.

​Minggu pagi itu menjadi saksi bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu tentang instruksi besar.

Terkadang, ia hadir dalam bentuk kesediaan untuk melayani hal-hal kecil dengan cinta yang besar.

​Gubernur Yulius Selvanus menunjukkan bahwa setinggi apa pun jabatan diraih, kaki harus tetap berpijak pada nilai-nilai pengabdian.

Ia pulang dari gereja bukan hanya sebagai gubernur, melainkan sebagai seorang pelayan yang setia pada panggilan jiwanya.(*)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *